a Friendship that never ends
January 26th, 2009 by mahendrakuHave a Heart that never breaks
Have a Smile that never fades
Have a touch that never hurts
Have a Friendship that never ends
Have a Heart that never breaks
Have a Smile that never fades
Have a touch that never hurts
Have a Friendship that never ends
Dalam menyelesaikan tugas, seringkali kita mendapatkan output hasil kerja yang kita terima dari subordinate, tidak seperti yang diharapkan. Kadang kala kita mengharapkan output kerja “A” tetapi kenyataannya kita mendapatkan output hasil kerja “B”. Sering juga terjadi, output hasil kerja yang kita terima sudah sesuai dengan yang kita inginkan namun waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut ternyata lebih lama dari target waktu yang kita berikan.
Permasalahan lain dalam penyelesaian tugas adalah adanya kebijakan yang sudah dibuat oleh manajemen ternyata terputus di tengah jalan. Orang yang menjadi kunci keberhasilan perusahaan yaitu front liner ternyata belum memahami kebijakan ini.
Goal setting yang sudah disusunpun ternyata tidak tercapai sesuai target. Hal ini disebabkan oleh strategi dalam pencapaian goal tidak dapat diterjemahkan dengan baik oleh front liner. Mereka kurang mendapat informasi yang jelas dari superior-nya tentang segala hal menyangkut goal dan strategi pencapaiannya.
Yang lebih buruk adalah pada saat seorang pelaksana tugas mengalami jalan buntu dalam menghadapi permasalahan tekhnis. Entah karena rasa sungkan yang tinggi atau karena hal lainnya, dia merasa malas untuk berkonsultasi dengan superior-nya, dia berpikir lebih baik diam dan menunggu sang pemberi tugas untuk menanyakannya terlebih dulu tentang progress kerja.
Dalam kasus ini, bukanlah management yang kurang mensosialisasikan kebijakan kepada seluruh karyawannya namun lebih karena kurangnya jalur komunikasi dalam bentuk proses pelaporan, pemberian informasi dan proses diskusi atau konsultasi yang tidak berjalan di lingkungan kerja.
Di lingkungan kerja, terutama yang memiliki budaya Process Oriented, sangat diperlukan proses pelaporan kepada superior mengenai segala sesuatu yang dianggap penting untuk dilaporkan, disamping itu pula diperlukan proses pemberian informasi kepada subordinate kita tentang segala sesuatu yang telah digariskan oleh superior, hal ini menyangkut kebijakan – kebijakan management, perkembangan perusahaan atau hal-hal lainnya agar alur informasi dan komunikasi antara top management dan pekerja di front liner tidak terputus.
Hal penting lainnya adalah proses konsultasi atau diskusi yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugas karena secara real di lapangan, banyak sekali permasalahan yang dihadapi dan tidak dapat dipecahkan melalui interpretasi sendiri. Dalam hal ini perlu adanya masukan – masukan dari orang lain terutama superiornya.
Horenso merupakan budaya kerja di lingkungan perusahaan Jepang. Horenso merupakan kependekan dari kata Houkoku yang berarti laporan, Renlaku yang berarti Informasi dan Soudan yang berarti konsultasi / diskusi. Horenso sendiri dalam bahasa Jepang memiliki arti BAYAM yaitu sayur – sayuran yang biasa dikonsumsi oleh Popeye seorang pelaut yang menjadi jagoan di serial TV dan komik.
Houkoku adalah proses pemberian laporan kepada superior tentang segala sesuatu yang seharusnya dilaporkan. Di lingkungan perusahaan Jepang, sangat ditabukan terjadinya permasalahan yang disebabkan oleh ketiadaan laporan dari subordinate kepada superiornya. Melalui houkoku seorang superior dapat memberikan masukan-masukan kepada subordinatenya sehingga dapat meyelesaikan tugas seperti yang diharapkan. Melalui houkoku pula seorang superior dapat menilai kinerja subordinatenya.
Tentunya tidak semua permasalahan harus dilaporkan kepada superior. Hanya permasalahan yang penting saja yang harus dilaporkan.
Abila hal yang kecilpun dilaporkan maka justru akan menghambat pekerjaan.
Seberapa besar ukuran permasalahan yang harus dilaporkan, tentunya harus sudah melalui kesepakatan bersama sebelumnya.
Renlaku adalah proses pemberian informasi kepada yang lain terutama kepada subordinate kita. Banyak terjadi dimana subordinate kita tidak dapat melakukan tugas yang bukan disebabkan oleh ketidak mampuannya dalam menjalankan tanggung jawabnya. Bisa juga terjadi, seorang subordinate tidak dapat melaksanakan tugas justeru karena sedikitnya informasi yang dia terima dari superior.
Kurangnya informasi yang mereka terima dari superiornya juga dapat menyebabkan berkurangnya syarat-syarat batas lingkup kerjanya, hal inilah yang menyebabkan hasil kerja seorang pelaksana tugas menjadi tidak lengkap.
Soudan adalah proses konsultasi atau diskusi antara pemberi tugas dan pelaksana tugas. Ada kalanya situasi di lapangan ternyata jauh berbeda dengan kondisi yang diperkirakan. Dalam hal ini pelaksana tugas menghadapi problem yang tidak dapat dia selesaikan sendiri. Pada saat itulah dia memerlukan proses soudan. Proses berkonsultasi yang intens antara dirinya dan pemberi tugas
Soudan merupakan salah satu proses penting dalam menyelasikan tugas.
Kita seringkali peduli dengan image yang kita tampilkan kepada orang lain. Kepedulian akan hal ini menuntun kita untuk berusaha mengontrol apa yang orang lain pikir tentang diri kita. Image yang kita coba tampilkan ini dapat berbeda-beda dari satu situasi ke situasi yang lain tergantung dari tujuannya.
Image yang kita coba tampilkan ini dapat dianalogikan seperti seorang actor yang sedang bermain peran. Layaknya seorang actor, kita akan berusaha untuk dapat menampilkan image tertentu. Kita menggunakan suatu set tingkah laku verbal dan non verbal secara hati-hati untuk dapat mencerminkan image tersebut. Pada akhirnya, bila berhasil, kita dapat memperoleh keuntungan-keuntungan sebagai konsekuensi dari image tersebut seperti, status, kemajuan karir, uang dan sebagainya.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa pengelolaan image seperti ini sebagai sesuatu yang manipulatif. Pengelolaan image dianggap sebagai sebuah strategi yang bertentangan dengan apa yang disebut “Be Yourself”. Hal ini tidak sejalan dengan kejujuran tentang siapa diri kita sesungguhnya, tentang perasaan dan keyakinan yang sebenarnya.
Namun demikian, anggapan seperti ini sebetulnya keliru. Aspek-aspek dari kepribadian yang menjadi identitas kita amatlah luas. Beliefs, values, competencies, dan traits adalah beberapa kategori yang dapat menunjukkan siapa diri kita apa adanya. Dalam interaksi sosial, orang lain perlu banyak waktu dan usaha untuk mengetahui semua itu dari diri kita. Tidak jarang orang lain jadi salah menilai tentang diri kita akibat keterbatasan yang ada. Belum lagi pengaruh-pengaruh internal yang sedang mengganggu diri kita sehingga kita tidak dapat perform sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu kita perlu memilih aspek-aspek apa saja dari diri kita untuk ditampilkan dari satu situasi ke situasi yang lain sesuai dengan tujuannya. Aspek-aspek yang kita pilih ini tentu saja merupakan identitas kita yang sesungguhnya. Misalnya, bila kita adalah seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, kita akan menampilkan sikap dan perilaku yang sesuai ketika berhadapan dengan dosen pembimbing skripsi sehingga ia percaya bahwa kita memang sedang mengerjakan skripsi.
The Goals of Self Presentation
Bagaimana seseorang mempresentasikan dirinya tergantung dari apa yang menjadi tujuannya. Masing-masing tujuan dapat menuntut atribut/tingkah lakunya sendiri-sendiri. Setidaknya ada 5 tujuan atau strategi bagi seseorang dalam mempresentasikan dirinya, yaitu :
bertujuan untuk menimbulkan rasa takut pada orang tertentu dengan cara mengesankan diri sebagai orang yang berbahaya.
bertujuan untuk mempengaruhi orang tertentu agar tertarik kepada kualitas personal yang kita miliki sehinggga kita disukai.
bertujuan untuk dinilai kompeten dalam kualitas-kualitas yang kita miliki misalnya dalam hal kecerdasan (general qualities) atau bernyanyi (specific skills).
bertujuan untuk dapat dipersepsi sebagai orang yang punya integritas dan bermoral tinggi yang seringkali pada akhirnya menimbulkan rasa bersalah pada orang yang diberi contoh.
Kita menampilkan kelemahan dan ketergantungan pada orang lain sehingga mendapat simpati.
Dari kelima tujuan/strategi di atas, yang paling sering terjadi adalah untuk tujuan pertama, yaitu mengambil hati. Seseorang dapat mencapai tujuan ini lewat berbagai cara. Salah satu diantaranya adalah dengan menyesuaikan pendapat dan tingkah laku kita dengan orang yang bersangkutan. Kita cenderung akan menyukai orang yang beliefs, sikap, dan tingkah lakunya serupa dengan kita. Namun demikian, hal ini tidak akan efektif apabila yang bersangkutan merasa sedang dijilat. Karena itu sebaiknya, dalam menggunakan strategi ini, kita mengambil posisi pasif. Maksudnya, kita hanya merespons komentar dan tindakan dari yang bersangkutan. Tidak mengambil inisiatif dan tindakan lebih dulu. Kita dapat bersikap bersahabat, menjadi pendengar yang baik dan menunjukkan keinginan untuk mencari persamaan selama dalam perbincangan.
Selain menggunakan prinsip kesamaan dalam beliefs, sikap dan tingkah laku, ada beberapa prinsip lain yang juga dapat membuat seseorang menjadi tertarik kepada kita yaitu,
Kita cenderung untuk lebih menyukai orang yang bertempat tinggal dekat dengan kita. Contoh, kita akan lebih cepat akrab dengan teman-teman yang tinggal satu kos daripada teman yang jauh. Kedekatan tempat tinggal membuat kita jadi mudah berinteraksi dan sering bertemu. Sulit bagi kita untuk dapat menyukai seseorang bila kita tidak pernah bertemu dengannya. Kalau menurut pepatah Jawa, “witing tresno jalaran sukokulino”
Menurut prinsip complementarity, orang akan memilih suatu hubungan yang di dalamnya kebutuhan dasar mereka saling terpenuhi. Kadang-kadang 2 orang yang saling berbeda kebutuhan dapat tertarik satu sama lain. Misalnya, orang yang dominant akan cocok dengan orang yang submissive.
Penampilan fisik adalah yang pertama kali kita perhatikan dan nilai tentang seseorang. Namun ukuran yang digunakan antar satu orang dengan yang lain dapat berbeda-beda.
Kita menyukai orang yang sikapnya menyenangkan dan melakukan hal-hal baik kepada kita.
Kita akan menyukai orang yang mengutarakan penilaian positif tentang diri kita.
Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, maka sewaktu pertama kali berkenalan dengan orang lain, kita dapat mencoba untuk,
Misalnya :
Tulisan menarik ini saya dapatkan pada Situs Institute Pertanian Bogor dalam liputan mereka tentang Pelatihan ”Human Capital Management in The Knowledge Era”. Pelatihan ini digelar oleh Direktorat Sumberdaya Manusia (SDM) IPB kerjasama dengan Dunamis Organization Services. Berikut tulisan selengkapnya.
Diakuinya, saat ini banyak pemimpin yang mempunyai paradigma bahwa ketika mereka berhasil membuat strategi bisnis dan mampu menganalisisnya secara mendalam, mereka merasa telah menjadi seorang business leader yang hebat. “Setelah perusahaan berhasil membuat strategi yang memukau, sang business leader menarik napas lega. Dia bangga karena berhasil menyusun strategi yang tampak hebat dan memukau semua orang di perusahaan,” ujarnya mencontohkan.
Sebenarnya filosofi dasar dari Human Capital Management adalah meyakini bahwa pegawai bukan hanya sumberdaya tapi merupakan aset yang berharga, yakni skill, pengetahuan dan pengalamannya. “People bukan sekadar sumber daya, melainkan aset perusahaan yang sangat berharga,” ujar Associate Partner Dunamis Organization Services Alex Denni, yang juga alumnus Teknologi Industri Pertanian IPB dengan konsentrasi Teknik Manajemen Industri.
Setiap tahun perusahaan selalu membuat perencanaan dan strategi. Selanjutnya, perencanaan dan strategi tersebut disosialisasikan ke karyawan untuk dieksekusi.
Agar dapat mengeksekusi dengan cepat dan tepat, peran seorang business leader sangat dibutuhkan. Alex menegaskan, strategi yang tidak mencapai hasil optimal, besar kemungkinan disebabkan oleh satu dari dua hal berikut ini: strategi yang salah, atau eksekusi strategi tersebut yang tidak efektif.
Padahal, lanjutnya, itu belum apa-apa. Masih ada langkah berikutnya yang seharusnya dia kerjakan. Apakah itu? Langkah selanjutnya adalah mendorong anak buah untuk mewujudkan strategi tersebut menjadi hasil yang nyata.
Yang menarik, riset yang dilakukan Franklin Covey menemukan bahwa saat perencanaan dan strategi itu dikomunikasikan, hanya separuh dari karyawan di perusahaan yang diteliti mendengarkan dengan sungguh-sungguh. “Menarik sekali, ternyata tidak sampai 50% karyawan yang mendengarkan saat sosialisasi dilakukan,” ungkap Alex.
Sementara itu, dalam upaya memilih talent yang bagus, Alex berpendapat, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, lihat masa lalu orang yang bersangkutan atau disebut performance. Kedua, memprediksi masa depannya atau disebut kompetensi. Bila keduanya bagus, pantaslah dimasukkan ke dalam kotak yang namanya talent pool. “Siapa yang tahu informasi ini, siapa yang meng-approach orang ini, dialah yang akan memenangkan war for talent,” tuturnya mantap.
Alex melihat, ada empat kebutuhan dasar yang diperlukan para talent. Pertama, kebutuhan untuk hidup (to life). Kedua, kebutuhan untuk dicintai (to love). Ketiga, kebutuhan untuk berkembang (to learn). Dan terakhir, kebutuhan untuk berkontribusi atau meninggalkan sesuatu yang berharga. “Intinya body, heart, mind, dan spirit,” ungkapnya. Alex menjelaskan, body ditentukan dengan gaji dan fasilitas. Selain itu, mereka butuh hubungan yang lebih baik. Kemudian, mereka butuh untuk mengembangkan potensi dan karier. Jika salah satu kebutuhan itu tidak terpenuhi, tidak tertutup kemungkinan sang talent akan pergi.
Sumber: Pimpinan IPB Ikuti Pelatihan Human Capital Management
Sebuah majalah bisnis bulanan meminta sejumlah pemimpin puncak perusahaan untuk melihat melampaui horison atas berita utama hari ini”, “mengamati masa depan”, dan “menjelaskan tugas yang paling berat yang akan dihadapi CEO di masa depan”. Saya pun diminta untuk melakukan hal yang sama.
Dalam tanggapan saya, saya menulis, “Tiga tantangan utama yang akan dihadapi pemimpin puncak tidak banyak kaitannya dengan mengelola harta berwujud milik perusahaan; semua yang dilakukannya berkaitan dengan pemantauan kualitas: kepemimpinan, tenaga kerja dan hubungan. Setelah majalah itu terbit, seorang pemimpin perusahaan menulis surat kepada saya dan mengatakan, “Tanggapan anda sangat berarti bagi saya. Saya menganggap bahwa ketiga tantangan yang anda gambarkan adalah seperti kaki kursi. Sayangnya saya melihat pemimpin hanya menempatkan perhatian pada satu, atau mungkin dua dari kaki itu.”
Beberapa tahun terakhir ini, perbandingan umum, tonggak penunjuk jalan dan batu peringatan akan segera berubah secepat waktu, tetapi satu hal yang tetap di pusat pusaran adalah sang pemimpin. Pemimpin masa depan bukanlah pemimpin yang telah belajar bagaimana mengerjakan sesuatu berdasarkan buku manual. Pemimpin masa kini dan masa depan akan diarahkan pada yang seharusnya, yaitu bagaimana mengembangkan mutu, karakter, pola pikir, nilai,prinsip, dan keberanian.
Pemimpin yang seharusnya tahu bahwa orang adalah harta terbesar organisasi. Sebagai pemimpin ia harus menunjukkan kekuatan filosofi ini dalam istilah, perilaku, dan hubungan. Para pemimpin seperti ini sudah lama membuang hieraki, dan banyak melibatkan otak dan tangan membangun jenis struktur baru. Rancangan baru tersebut mengeluarkan orang-orang dari dalam kotak hierarki lama dan menggerakkan mereka ke dalam sistem manajemen yang lebih memutar, fleksibel, dan lancar, yang mencuatkan pembebasan semangat dan upaya manusia.
Pemimpin yang seharusnya mengembangkan kepemimpinan yang terpencar dan beragam - membagi kepemimpinan pada sudut terjauh dari lingkaran untuk mengungkapkan kekuatan tanggung jawab bersama. Pemimpin membangun tenaga kerja, dewan, dan staf yang mencerminkan banyaknya ragam masyarakat dan lingkungan sehingga para pelanggan dan mereka yang terkait akan menyadari sendiri saat mereka melihat organisasi yang sangat beraneka ragam di masa depan.
Pemimpin yang seharusnya akan mempertahankan visi masa depan organisasi dan setengah memaksa mengobarkan semangat yang dibutuhkan untuk mebangun perusahaan. Pemimpin memobilisasi orang-orang di sekitar misi organisasi,
memantapkan suatu kekuatan dalam masa yang tidak menentu di masa depan. Koordinasi sekitar misi ini menggerakkan suatu kekuatan yang ditransformasikan menjadi satu ke tempat kerja, di mana karyawan dan tim dapat menyatakan diri mereka sendiri dalam pekerjaan dan menemukan signifikasi melampaui tugas saat mereka mengelola misi. Melalui suatu fokus yang tetap pada misi, pemimpin seharusnya memberi kepada pemimpin perusahaan yang tersebar dan beraneka ragam seuatu kesadaran arah yang jelas dan peluang untuk menemukan makna dalam pekerjaan mereka.
Pememimpin seharusnya tahu bahwa mendengarkan pelanggan dan belajar apa yang ia beri nilai akan merupakan komponen penting, bahkan lebih penting di masa depan ketimbang masa kini. Persaingan global dan lokal semakin cepat, dan kebutuhan untuk memfokuskan pada apa yang dibutuhkan pelanggan akan makin kuat.
Makna sosial terpenting dari pemimpin masa depan adalah cara mereka menghayati totalitas kepemimpinan, tidak sekedar memasukkan “organisasi saya” tetapi juga menjangkau ke luar dinding organisasi. Pemimpin yang baik apakah ia pria atau wanita, bekerja di sektor swasta, pemerintah, atau sosial, menyadari arti penting mereka yang membangun perusahaan, nilai dari tempat kerja yang mengembangkan orang-orang untuk berprestasi adalah penting untuk kelanjutan misi, serta perlunya suatu masyarakat yang sehat untuk untuk tercapainya sukses organisasi. Pemimpin yang bijaksana akan merangkul semua yang terlibat dalanm lingkaran yang mengitari perusahaan, organisasi, orang, kepemimpinan dan masyarakat.
Tantangan yang berasal dari luar organisasi memerlukan banyak perhatian, komitmen, dan semangat sebagai tugas yang paling penting di dalam organisasi. Pemimpin masa depan akan mengatakan “Hal ini tidak dapat dibiarkan” saat nmereka melihat sekolah, kesehatan anak-anak - yang merupakan tenaga kerja di masa depan - persiapan untuk hidup dan kerja yang tidak mencukup dalam banyak keluarga, dan orang-orang yang kehilangan kepercayaan terhadap lembaga mereka. Pemimpin baru akan membangun masyarakat yang sehat dengan semangat yang sama dengan semangat saat mereka membangun perusahaan yang sehat, produktif, dengan menyadari bahwa organisasi dengan kinerja tinggi tidak dapat hidup jika perusahaan tersebut mengecewakan orang-orangnya dan hidup dalam suatu masyarakat yang sakit.
Dewasa ini kepedulian tentang langkanya kesetiaan karyawan kepada perusahaan dan berkurangnya kepercayaan perusahaan kepada karyawan merupakan pesan yang jelas bagi pemimpin masa depan. Kerasnya dunia bisnis mungkin mengakibatkan hancur dan punahnya filosofi mereka, seperti juga semangat dari orang-orang mereka. Pada akhirnya, jika organisasi sampai mengurangi tenaga kerja mereka, akankah pemimpin di masa depan akan angkat kaki atau akankah ada pemimpin baru yang mampu memandu visi, prinsip, dan nilai yang membangun kepercayaan dan meningkatkan semangat dan kreativitas karyawannya?
Pengamat yang cermat tidak hanya akan meramalkan masa-masa menguntungkan, tetapi juga tentang masa kekacauan yang ada di hadapan pemimpin, peluang yang menakjubkan yang terbentang bagi mereka yang akan memimpin perusahaan dan negara ini ke dalam suatu jenis masyarakat baru - suatu masyarakat yang memiliki anak-anak sehat, keluarga sejahtera, dan pekerjaan yang bisa memberikan harga diri kepada setiap orang. Dalam arena inilah pemimpin dengan pola pikir dan visi baru mempererat hubungan yang melintasi ketiga sektor untuk membangun kemitraan dan masyarakat. Hal ini memerlukan suatu kelompok manusia yang berbeda, yang terdiri atas pemimpin yang berani melihat kehidupan dan masyarakat secara menyeluruh, yang memandang kerja sebagai peluang menyenangkan untuk mewujudkan apa pun yang ada di dalamnya. Pemimpin tersebut juga mampu memberi semangat dan sinar kehidupan serta mempunyai keberanian memimpin di depan mengenai isu, prinsip, visi, misi, dan yang menjadi bintang untuk mengendalikannya. Pemimpin masa depan hanya dapat berspekulasi pada sesuatu hal yang terwujud yang akan mendefiniskan tantangan yang dihadapi di masa depan. Tetapi kualitas tak berwujud dari kepemimpinan yang diperkukan sama tetapnya seperti bintang kejora di langit. Kualitas kepemimpinan yang tak berwujud ini dinyakatakan dalam karakter, kekuatan yang ada di dalamnya, dan tentang bagaimana seharusnya pemimpin melewati masa depan.
(Diadaptasi dari “Pemimpin Yang Seharusnya”, Frances Hesselbein, “The Leaderof The Future”, The Drucker Foundation”)
Selama beberapa bulan saya telah mengadakan interview dengan beberapa klien untuk mendefinisikan kualitas-kualitas terbaik dari pemimpin-pemimpin yang paling efektif. Berikut ini adalah lima kualitas yang paling sering disebut-sebut sebagai kualitas paling penting yang dimiliki oleh para pemimpin tersebut.
1–Pemimpin mendengarkan.
2–Pemimpin menunjukkan arah
3–Pemimpin menciptakan lingkungan yang penuh motivasi.
4–Pemimpin tidak menyalahkan.
5–Pemimpin memimpin dengan teladan.
Apakah para pemimpin anda menunjukkan kualitas-kualitas tersebut di atas?
Jika tidak, bagian manakah yang terlewati dan apa yang harus anda lakukan?
(Linda R. Dominguez, CoachingWeekly, http://www.executive-coaching.com)
Suatu ketika, di sebuah padang , tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya,tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya. Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang. Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. “Pohon yang sangat berguna”, begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.
Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya,kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.
Sang pohon pun bersedih. “Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku ? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki ?”, begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. “Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini ? Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.
Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.
“Cittt…cericirit… cittt”. Ah suara apa itu ? Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya. Cittt…cericirit… cittt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu…dua…tiga…dan empat anak burung lahir ke dunia. “Ah, doaku di jawab-Nya”, begitu seru sang pohon.
Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering,mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. “Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini”, gumam sang pohon dengan berbinar.
Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.
Moral cerita :
Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasaNya yang maha tinggi dan maha mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun yakinlah, Allah tahu apa yang terbaik buat kita.
Ketika dititipkan-Nya cobaan buat kita, di saat itu diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang diberikan-Nya, bukanlah harga mati, bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimilikinya.
Sahabat, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan- Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.”
tidak ada prajurit jelek jika pemimpin baik…?

Teman adalah hadiah dari Allahu’ajja wajalla ke kita.
Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek.
Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik.
Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau
kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek.
Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah
sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika
kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling
bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa
bersama.. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka.
Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak
mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan
cinta dalam hidupnya.
Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap
penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll.
Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba
menghindar dari mereka.
Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKANlah karena
mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya
memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta
kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian
kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang
memasung jiwanya.
Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang
terluka lututnya berlari bersama kita?
Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama?
Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang
mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena
mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita.
Mereka tidak akan bilang bahwa “lutut” mereka luka atau
mereka takut air”, mereka akan bilang bahwa mereka tidak
suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu
membosankan dll.
It’s a defense mechanism.
Itulah cara mereka mempertahankan diri.
Mereka tidak akan bilang: “Aku tidak bisa menari”
Mereka akan bilang: “Menari itu tidak menarik.”
Mereka tidak akan bilang:”Aku membutuhkan kamu”
Mereka akan bilang:”Tidak ada yang cocok denganku.”
Mereka tidak akan bilang:”Aku kesepian”
Mereka akan bilang: “Teman-temanku sudah lulus semua”
Mereka tidak akan bilang:“Aku butuh diterima”
Mereka akan bilang: “Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku..”
Mereka tidak akan bilang:”Aku ingin didengarkan”
Mereka akan bilang: “Kisah hidupku membosankan..”
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya
bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek.
Dan jangan tertipu oleh kemasan.
Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa,
kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
Berikanlah makna di dlm kehidupan Anda bukan hanya
untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk
membahagiakan sesama manusia di dlm lingkungan kehidupan Anda.
Berikanlah waktu Anda dgn digabung oleh rasa kasih!
Seorang sahabat sama seperti satu permata yg tak ternilai harganya.
Seorang kawan bisa membuat kita ceria, membuat kita terhibur.
Mereka meminjamkan kupingnya kepada kita pada saat kita membutuhkannya.
Mereka bersedia membuka hati maupun perasaannya untuk
berbagi suka dan duka dgn kita pada saat kita membutuhkannya.
Maka dari itu janganlah buang waktu yg Anda miliki,
janganlah sia2 akan waktu yg sedemikian berharganya.
Bagikanlah sebagian dari waktu yg Anda miliki untuk seorang kawan.
Pasti waktu yg Anda berikan tsb akan berbalik kembali seperti juga
satu lingkaran walaupun terkadang kita tidak tahu dari mana
dan dari siapa datangnya.
Mulailah kita awali dgn membagikan waktu kita
sejenak dgn menforward artikel ini kepada semua kawan atau
sahabat yg membutuhkannya.
Dgn ucapan I care about you!
Kebahagiaan anda tumbuh berkembang manakala anda membantu orang lain. Namun, bilamana anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman, harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi. (xxx)
kiriman dari teman di jakarta
spirit dari pa gendut penjual warung nasi pasundan
berdagang sambil berdakwah….
hari rabu 18 april 2007 sekitar jam 6 sore waktu ciwaruga hujan deras
“…adik ga boleh menyerah,
bapak yakin adik ini mampu
adik ini bisa…
adik harus dapatkan selembar kertas itu…
bapak ini orang yang gagal dalam pendidikan
karena bapak ga punya biaya
sayang kan… kalo adik menyerah
masuknya susah, kuliahnya susah,
masa tinggal nyusun aja ga bisa,
adik uda rugi uang rugi waktu…
posisi adik lemah
adik ini di bawah
egonya harus diredam dulu
sekarang bukan saat yang tepat…
jaman sekarang ini kita dihargai karena dunia
dengan selembar kertas itu
adik bisa menebus kerugian selama ini
adik bisa bekerja…
orang tua cuma ingin anaknya bahagia
mereka ga mengharap apa-apa dari kita
kita bicara dunia
tapi agamapun harus baik
dengan bekerja adik bisa berdakwah
adik bisa menolong orang lain
bapak membangun warung ini tahun 99 dari nol
dari rugi dulu
modal seratus ribu yang balik hanya delapan puluh ribu
rugi dulu
disitu kita di tuntut bersabar
bersabar dan terus bersabar
hingga seperti sekarang ini
kejadian apapun yang menimpa diri kita
ambil hikmahnya
ambil hikmahnya
ambil hikmaknya
adik harus berusaha
kasihan kan orang tua…
renungkan itu…!!!”